Awan Malam Tak Suram. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Minggu, 06 November 2011

thanks my bro
you always remember me about her
now i can keep my heart not to over it,

leave a love for love
READ MORE -

Rabu, 28 September 2011

mungkin salah bila aku mengikuti angin kembali ke pesisir bersama semburat ombaknya tak lah pantas untuk q tetap terus mengikuti bayangmu yang kelam harus lagi ku bangun mimpi untukmu dan aku tentang jalan kita yang pantas untuk kita arungi bersama sampai saat ini, tepat pintu ini , kau buka kunci untuk aku masuk ke dalam, namun bukan sapaan tetapi kau ambil lagi kuncinya biar tetap aq menjadi malam yang bersemayan dalm mimpimu, sayang,,,, tetaplah miliki bahagiamu bila itu bukan untukku, hanya yang selalu aku ingini bahwa kau selalu bahagia selama bersamaku
READ MORE -

Rabu, 17 Agustus 2011


bagaimana ku jelaskan rindu,
bila bertemu, sendi hatiku
dan sendu itu karunia ilahi...

bagaimana kujelaskan rindu,
bila malu slalu melanda
dan malu ini karunia ilahi

dari doa, tiap doa,
ku puji Engkau Yang Menguasai Rasa
untuk suci antara cinta kita
manusia tak sempurna

yang mengalir tertiup angin pembawanya

telah Kau catatkan kisahku olehMU,
sucikan jalan kami,
jaga cintanya,
juga rindunya,
jaga cintaku,
juga rinduku,
hanya di tangan MU
READ MORE -

Ya Allah...Jika cinta ku adalah kerinduan,
maka jadikanlah rindu ini dalam dzikir padaMu, ya Allah.

Jk cinta ku adalah perjuangan,
maka kobarkanlah semangat di dada inii.
...
Jk cinta ku adalah pengorbanan,
mk jadikan pengorbanan ini tidak sia-sia di sisiMu.

Jk cinta ku adalah air mata,
mk jadikan ia air mata taubat kepadaMu ya Allah

dan Jk cinta ku ini adalah ketulusan,
mk jadikanlah hati ini untuk selalu ikhlas dlm menerima semua takdirMu
READ MORE -

merepih malamku ketika kelabu mendampingmu
hanya,
sekedar pintas semerbuk angin yang kau hempas
bukan menjadi penolong dalam titianku
yang,,,
ada hanya sebatas angan
mimpi semu
untukku bisa miliki cintamu yang suci

tahukah kau rasa ku saat ini...
hanya rasa kepingan rindumu
hanya malu putri antaraku
READ MORE -

Kamis, 21 Juli 2011

biarkan aku tetap menjadi pemuja rahasiamu

ketika kau butuhkan, aku kan berusaha tetap ada
READ MORE -
tentang kisah kita
tentang cerita kita
antara kau, aku dan mereka
tentang rinduku
tentang ceritamu, tangismu
dan tentang tawamu

lihat aku
hanya manusia hina tak pantas bicara
tentang rindu ini, hanya beri siksa sekilas antar kau dalam lelap tak berdaya
ini jalan hidupmu
ini ceritaku tentang aku yang menyusuri jalan itu
biar ku terlewat diantara kemarau yang tanduskan aku dalam siksa mekar mawar yang ku siram sendiri

atau

jangan pernah lihat aku
jika penuhi dirimu dengan derita
campakkan aku,
sampai kau temui bahagianya

bila

kau tahu rasa dalam dada
semerbak bunga tak berasa aroma
hanya berada antaranya
layu seribu terbawa dalam senja menggebu

hanya

dan aku tak bisa mengerti bahasa hatimu
tiap
memahami, biar berdiam diri
READ MORE -

Jumat, 08 Juli 2011

ibu

ibuku sayanggg
READ MORE - ibu

Rabu, 25 Mei 2011


menudung senja lewati kau dan bayangmu
aku yang terlepas raga meraja nagguhkan hati
sebagai jiwa tak bersemayan sesekali bergemayang malammu
awanku tertiup senjamu
READ MORE -

Jumat, 29 April 2011


rasanya begitu dalam sakit ini
mungkinkan aku yang terlallu memuja cinta? hingga cinta ini terlalu aku rasa dalam kesendirian diatas pundakku
atau aku yang terlalu mencinta tanpa batas yangs eharusnya aku patuhi?
kadang hatiku berkata
"haruskah ku terusi jalani cinta ini tanpa ikatan pasti?"
pujangga...
aku merana dalam sendiri
haruskah ku sesali temu ini karna akhirnya perpisahan yang aku benci juga terjadi??
seperti kemana arah jalanku?????
READ MORE -

Sabtu, 23 April 2011

Bapak Pilih Diobati Paru-parunya, Ginjalnya Apa Hatinya Dulu?



“Saya sakit apa saja, dok?” Tanya pasien yang kritis itu dengan gaya menyelidik.

Bapak ini agak sesak, susah buang air kecil, dan matanya kuning, sudah bolak balik pindah dokter dan pindah rawat ke 4 rumah sakit selama 2-3 hari lalu minta pulang sebelum ada perbaikan.

“Sakit utama bapak TBC paru-paru yang sudah lanjut. Tetapi akibat obat-obat TBC bapak sedikit ada gangguan di hati dan ginjal.” Jawabku.

“Nah, kan. Berarti dokter-dokter sebelumnya malpraktek, dok. Saya bisa melapor ke polisi kan dok?” Matanya melotot dan tambah sesak terbatuk-batuk.

“Oh, bukan. Itu efek samping obat, tidak direncanakan dokter sebelumnya untuk membuat bapak kena efek samping. Makanya waktu meresepkan obat, dokter biasanya menyuruh si pasien kontrol untuk melihat perkembangan penyakit dan efek pengobatannya.” kataku.

“Jadi, dokter itu tidak salah? Yang salah saya? Kok jadi pasien yang salah?” Si bapak merengut.

“Menurut riwayat penyakitnya, bapak selalu pindah-pindah dokter dan rawat inap di rumah sakit 2-3 hari langsung minta pulang. Nah, mungkin saja pengobatannya jadi tidak tuntas dan tumpang tindih..” Jawabku.

“Baiklah! Berarti dokter ingin saya dirawat di sini sampai sembuh, kan? Yakin saya bisa sembuh? Itu obatnya kok banyak bener dok? Pesan sponsor ya? Bukannya tambah parah nanti sakit saya?” Katanya ketus dengan sesaknya.

“Perbaikan sih mungkin. Tapi bikin sembuh seperti orang yang paru-parunya bagus tidak mungkin. Itu pun paling cepat pengalaman saya 1 minggu baru nafas bapak legah. Nah, ini penyakit bapak banyak benar, ada TBC, sakit ginjal, hepatitis, gastritis, rematik. Satu penyakit obatnya ada yang 2 dan 3. Mau diobatin yang mana dulu? Paru-parunya? Ginjalnya? Atau hatinya?”

“Tidak ada satu obat untuk semua penyakit dok?”

“Belum ada pak!”

“Ya, kalau begitu terserah dokter deh. Saya menurut saja!” Si pasien menurut pasrah.

Sepuluh hari dia dirawat, ada perbaikan. Sesak berkurang, ginjalnya membaik dan kuningnya berkurang. Bukan karena obat yang diberikan lebih bagus, mirip-mirip dengan obat dokter-dokter sebelumnya. Tetapi minimal si pasien mau pasrah 10 hari dirawat dan menurut semua nasehat dan terapi dokter dan perkembangan penyakitnya dapat diikuti dan diantisipasi.

Penyakit sebaiknya dicegah, tetapi kalau sudah terkena sebaiknya saudara berobat ke dokter yang anda percaya dan ijinkan dia memberi pengobatan dan mengikutinya sampai dia menyerah dan merujuk ke dokter yang lebih ahli.

Bagaimana kalau si dokter tidak menyerah-menyerah? Beri batasan waktu. sakit yang akut, satu minggu harus ada kemajuan. Bila 2 kali kontrol dengan rentang 3 hari penyakitnya tidak baik, anda minta rujuk deh, dan ke dokter rujukan ini anda beritahukan obat-obat sebelumnya.

Untuk penyakit kronis dan menahun (sudah anda derita lebih 2 minggu), berikan si dokter waktu 1 bulan. Kalau dalam sebulan dia belum bisa mengurangi keluhan anda dan apalagi belum bisa mendiagnosis penyakitnya dengan tepat, mintalah dirujuk ke dokter yang lebih ahli. Dan ingat, obat-obat sebelumnya harap dibawa salinan resepnya biar si dokter rujukan mengerti riwayat pengobatan sebelumnya.

Yang kurang bijaksana kalau anda gemar pindah-pindah dokter kalau dalam 2-3 hari obat yang diberikan dokter sebelumnya terasa kurang manjur. Ini berbahaya, dapat menimbulkan banyak efek samping dan kekebalan kuman terhadap antibiotik.

Apalagi kalau anda memiliki 4, 5 atau lebih penyakit, itu lebih sulit lagi, karena tiap penyakit memiliki obat yang memiliki efek samping tertentu, obat untuk penyakit satu bisa ada efek samping ke penyakit lainnya, nah untuk kasus ini anda harus lebih bersabar lagi. Si dokter pasti akan mengobati penyakit anda bertahap sesuai tingkat keparahannya, tidak bisa sekaligus semua.

Itulah gambaran pasien dengan poly disease yang diobati polifarmasi yang kebetulan tidak poligami. Mudah-mudahan ada manfaat bagi semua yang membacanya.
READ MORE - Bapak Pilih Diobati Paru-parunya, Ginjalnya Apa Hatinya Dulu?

Kisah Cinta yang Mengharukan …


Cerita ini adalah kisah nyata… dimana
perjalanan hidup ini ditulis oleh seorang istri dalam sebuah
laptopnya.



Bacalah, semoga kisah nyata ini menjadi pelajaran

bagi kita semua.
***

Cinta itu butuh kesabaran…

Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita???

Hari itu.. aku dengannya berkomitmen untuk menjaga cinta kita..

Aku menjadi perempuan yg paling bahagia…..

Pernikahan kami sederhana namun meriah…..


Ia menjadi pria yang sangat romantis pada waktu itu.

Aku bersyukur menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar,
tampan & mapan pula.

Ketika kami berpacaran dia sudah sukses dalam karirnya.

Kami akan berbulan madu di tanah suci, itu janjinya ketika kami
berpacaran dulu..

Dan setelah menikah, aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci….

Aku sangat bahagia dengannya, dan dianya juga sangat memanjakan
aku… sangat terlihat dari rasa cinta dan rasa sayangnya pada ku.

Banyak orang yang bilang kami adalah pasangan yang serasi.
Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Dan aku bahagia
menikah dengannya.

***

Lima tahun berlalu sudah kami menjadi suami istri, sangat tak terasa
waktu begitu cepat berjalan walaupun kami hanya hidup berdua saja
karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat
kecil (bayi) di tengah keharmonisan rumah tangga kami.

Karena dia anak lelaki satu-satunya dalam keluarganya, jadi aku
harus berusaha untuk mendapatkan penerus generasi baginya.

Alhamdulillah saat itu suamiku mendukungku…

Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan-NYA.

Tapi keluarganya mulai resah. Dari awal kami menikah, ibu &
adiknya tidak menyukaiku. Aku sering mendapat perlakuan yang tidak
menyenangkan dari mereka, namun aku selalu berusaha menutupi hal itu
dari suamiku…

Didepan suami ku mereka berlaku sangat baik padaku, tapi dibelakang
suami ku, aku dihina-hina oleh mereka…

Pernah suatu ketika satu tahun usia pernikahan kami, suamiku
mengalami kecelakaan, mobilnya hancur. Alhamdulillah suami ku selamat
dari maut yang hampir membuat ku menjadi seorang janda itu.

Ia dirawat dirumah sakit pada saat dia belum sadarkan diri setelah
kecelakaan. Aku selalu menemaninya siang & malam sambil kubacakan
ayat-ayat suci Al – Qur’an. Aku sibuk bolak-balik dari rumah sakit dan
dari tempat aku melakukan aktivitas sosial ku, aku sibuk mengurus
suamiku yang sakit karena kecelakaan.

Namun saat ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah
kami, aku melihat di dalam kamarnya ada ibu, adik-adiknya dan
teman-teman suamiku, dan disaat itu juga.. aku melihat ada seorang
wanita yang sangat akrab mengobrol dengan ibu mertuaku. Mereka tertawa
menghibur suamiku.

Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika
melihat suami ku sudah sadar, tapi aku tak boleh sedih di hadapannya.

Kubuka pintu yang tertutup rapat itu sambil mengatakan, “Assalammu’alaikum”
dan mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan
mereka semua melihatku. Suamiku menatapku penuh manja, mungkin ia
kangen padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup.

Tangannya melambai, mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya
erat. Setelah aku menghampirinya, kucium tangannya sambil berkata “Assalammu’alaikum”,
ia pun menjawab salam ku dengan suaranya yg lirih namun penuh dengan
cinta. Aku pun senyum melihat wajahnya.

Lalu.. Ibu nya berbicara denganku …

“Fis, kenalkan ini Desi teman Fikri”.

Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah
mencintainya, perempuan itu bernama Desi dan dia sangat akrab dengan
keluarga suamiku. Hingga akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga. Aku
pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku bicara di
dalam ruangan tersebut,aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan.

Aku sibuk membersihkan & mengobati luka-luka di kepala suamiku,
baru sebentar aku membersihkan mukanya, tiba-tiba adik ipar ku yang
bernama Dian mengajakku keluar, ia minta ditemani ke kantin. Dan
suamiku pun mengijinkannya. Kemudian aku pun menemaninya.

Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata, ”lebih baik kau pulang
saja, ada
kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja. ”

Anehnya, aku tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan
alasan abang harus banyak beristirahat dan karena psikologisnya masih
labil. Aku berdebat dengannya mempertanyakan mengapa aku tidak
diizinkan berpamitan dengan suamiku. Tapi tiba-tiba ibu mertuaku datang
menghampiriku dan ia juga mengatakan hal yang sama. Nantinya dia akan
memberi alasan pada suamiku mengapa aku pulang tak berpamitan
padanya, toh suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah
ataupun tidak, suamiku tetap saja membenarkannya. Akhirnya aku pun
pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata.

Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai
ia kembali dari rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis dalam
kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.

***

Hari itu.. aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut
kehilangannya, aku takut cintanya dibagi dengan yang lain.

Pagi itu, pada saat aku membersihkan pekarangan rumah kami, suamiku
memanggil ku ke taman belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia
mengajakku duduk di ayunan favorit kami sambil melihat ikan-ikan yang
bertaburan di kolam air mancur itu.

Aku bertanya, ”Ada apa kamu memanggilku?”

Ia berkata, ”Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang”

Aku menjawab, ”Ia sayang.. aku tahu, aku sudah mengemasi
barang-barang kamu di travel bag dan kamu sudah memeegang tiket bukan?”

“Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku
juga sudah lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita
menikah dan aku akan pulang dengan mama ku”, jawabnya tegas.

“Mengapa baru sekarang bicara, aku pikir hanya seminggu saja
kamu disana?“, tanya ku balik kepadanya penuh dengan rasa
penasaran dan sedikit rasa kecewa karena ia baru memberitahukan rencana
kepulanggannya itu, padahal aku telah bersusah payah mencarikan tiket
pesawat untuknya.

”Mama minta aku yang menemaninya saat pulang nanti”,
jawabnya tegas.

”Sekarang aku ingin seharian dengan kamu karena nanti kita 3
minggu tidak bertemu, ya kan?”, lanjut nya lagi sambil memelukku
dan mencium keningku. Hatiku sedih dengan keputusannya, tapi tak boleh
aku tunjukkan pada nya.

Bahagianya aku dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang
& cintanya walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.

Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama suamiku,
tapi karena keluarganya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu
padaku karena suamiku sangat sayang padaku.

Kemudian aku memutuskan agar ia saja yg pergi dan kami juga harus
berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah tangga kami.

Karena ini acara sakral bagi keluarganya, jadi seluruh keluarganya
harus komplit. Walaupun begitu, aku pun tetap tak akan diperdulikan
oleh keluarganya harus datang ataupun tidak. Tidak hadir justru membuat
mereka sangat senang dan aku pun tak mau membuat riuh keluarga ini.

Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan
keperluan yang akan dibawanya ke Sabang, ia menatapku dan menghapus
airmata yang jatuh dipipiku, lalu aku peluk erat dirinya. Hati ini
bergumam tak merelakan dia pergi seakan terjadi sesuatu, tapi aku tidak
tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa menangis karena akan
ditinggal pergi olehnya.

Aku tidak pernah ditinggal pergi selama ini, karena kami selalu
bersama-sama kemana pun ia pergi.

Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian dan tidak memiliki teman,
karena biasanya hanya pembantu sajalah teman mengobrolku.

Hati ini sedih akan di tinggal pergi olehnya.

Sampai keesokan harinya, aku terus menangis.. menangisi
kepergiannya. Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak,
tapi aku tak boleh berburuk sangka. Aku harus percaya apada suamiku.
Dia pasti akan selalu menelponku.

***

Berjauhan dengan suamiku, aku merasa sangat tidak nyaman, aku merasa
sendiri. Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis,
jadinya aku tak terlalu kesepian ditinggal pergi ke Sabang.

Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami memburuk dan aku
pun jatuh sakit. Rahimku terasa sakit sekali seperti di lilit oleh
tali. Tak tahan aku menahan rasa sakit dirahimku ini, sampai-sampai aku
mengalami pendarahan. Aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik
laki-lakiku yang kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis aku
terkena kanker mulut rahim stadium 3.

Aku menangis.. apa yang bisa aku banggakan lagi..

Mertuaku akan semakin menghinaku, suamiku yang malang yang selalu
berharap akan punya keturunan dari rahimku.. namun aku tak bisa
memberikannya keturunan. Dan kemudian aku hanya bisa memeluk adikku.

Aku kangen pada suamiku, aku selalu menunggu ia pulang dan
bertanya-tanya, “kapankah ia segera pulang?” aku tak tahu..

Sementara suamiku disana, aku tidak tahu mengapa ia selalu
marah-marah jika menelponku. Bagaimana aku akan menceritakan kondisiku
jika ia selalu marah-marah terhadapku..

Lebih baik aku tutupi dulu tetang hal ini dan aku juga tak mau
membuatnya khawatir selama ia berada di Sabang.

Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan
cerita padanya. Setiap hari aku menanti suamiku pulang, hari demi hari
aku hitung…

Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang
melihat foto-foto kami, ponselku berbunyi menandakan ada sms yang
masuk.

Kubuka di inbox ponselku, ternyata dari suamiku yang sms.

Ia menulis, “aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulangnya
satu hari lagi, aku akan kabarin lagi”.

Hanya itu saja yang diinfokannya. Aku ingin marah, tapi aku pendam
saja ego yang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba, aku
menantinya di rumah.

Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai
parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan nantinya aku
juga akan menyelesaikan masalah komunikasi kami yg buruk akhir-akhir
ini.

Bel pun berbunyi, kubukakan pintu untuknya dan ia pun mengucap
salam. Sebelum masuk, aku pegang tangannya kedepan teras namun ia tetap
berdiri, aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan kucuci
kedua kakinya, aku tak mau ada syaithan yang masuk ke dalam rumah
kami.

Setelah itu akupun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa
reaksinya..

Masya Allah.. ia tidak mencium keningku, ia hanya diam dan langsung
naik keruangan atas, kemudian mandi dan tidur tanpa bertanya kabarku..

Aku hanya berpikir, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan
bawaan nya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam,
mengingatkan aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.

Biasa nya kami selalu berjama’ah, tapi karena melihat nya tidur
sangat pulas, aku tak tega membangunkannya. Aku hanya mengeelus
wajahnya dan aku cium keningnya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus
witir 3 raka’at.

***

Aku mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu aku melihat dirinya
dari balkon kamar kami yang bersiap-siap untuk pergi. Lalu aku
memanggilnya tapi ia tak mendengar. Kemudian aku ambil jilbabku dan aku
berlari dari atas ke bawah tanpa memperdulikan darah yg bercecer dari
rahimku untuk mengejarnya tapi ia begitu cepat pergi.

Aku merasa ada yang aneh dengan suamiku. Ada apa dengan suamiku?
Mengapa ia bersikap tidak biasa terhadapku?

Aku tidak bisa diam begitu saja, firasatku mengatakan ada sesuatu.
Saat itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuakudan kebetulan Dian
yang mengangkat telponnya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang
sedang terjadi dengan suamiku. Dengan enteng ia menjawab, “Loe
pikir aja sendiri!!!”. Telpon pun langsung terputus.

Ada apa ini? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku
berubah setelah ia kembali dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau
berbicara padaku, apalagi memanjakan aku.

Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas
tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Kami hanya berbicara
seperlunya saja, aku selalu diintrogasinya. Selalu bertanya aku dari
mana dan mengapa pulang terlambat dan ia bertanya dengan nada yg keras.
Suamiku telah berubah.

Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah dituduhnya berzina dengan
mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku
serendah itu, tapi aku selalu ingat.. sebagaimana pun salahnya
seorang suami, status suami tetap di atas para istri, itu pedoman yang
aku pegang.

Aku hanya berdo’a semoga suamiku sadar akan prilakunya.

***

Dua tahun berlalu, suamiku tak kunjung berubah juga. Aku menangis
setiap malam, lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang
baru saja berkenalan.

Kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna. Walaupun kondisinya
tetap seperti itu, aku tetap merawatnya & menyiakan segala yang ia
perlukan. Penyakitkupun masih aku simpan dengan baik dan sekalipun ia
tak pernah bertanya perihal obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku
telah sirna, harapan menjadi ibu pun telah aku pendam. Aku tak tahu
kapan ini semua akan berakhir.

Bersyukurlah.. aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku
sebagai seorang guru ngaji, jadi aku tak perlu meminta uang padanya
hanya untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.

Sungguh.. suami yang dulu aku puja dan aku banggakan, sekarang telah
menjadi orang asing bagiku, setiap aku bertanya ia selalu menyuruhku
untuk berpikir sendiri. Tiba-tiba saja malam itu setelah makan malam
usai, suamiku memanggilku.

“Ya, ada apa Yah!” sahutku dengan memanggil nama
kesayangannya “Ayah”.

“Lusa kita siap-siap ke Sabang ya.” Jawabnya tegas.

“Ada apa? Mengapa?”, sahutku penuh dengan keheranan.

Astaghfirullah.. suami ku yang dulu lembut tiba-tiba saja menjadi
kasar, dia membentakku. Sehingga tak ada lagi kelanjutan diskusi antara
kami.

Dia mengatakan ”Kau ikut saja jangan banyak tanya!!”

Lalu aku pun bersegera mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke
Sabang sambil menangis, sedih karena suamiku kini tak ku kenal lagi.

Dua tahun pacaran, lima tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia
menjadi orang asing buatku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat penuh
cinta yang dihiasi foto pernikahan kami, sekarang menjadi dingin..
sangat dingin dari batu es. Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin
rasanya aku berontak berteriak, tapi aku tak bisa.

Suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, ngomong dengan nada
tinggi, suka membanting barang-barang. Dia bilang perbuatan itu
menunjukkan sikap ketidakhormatan kepadanya. Aku hanya bisa bersabar
menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini, dalam
kesendirianku..

***

Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman
aku tidak tidur karena terus berpikir. Keluarga besarnya juga telah
berkumpul disana, termasuk ibu & adik-adiknya. Aku tidak tahu ada
acara apa ini..

Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah didalam
kamar tua itu, ia pun langsung keluar bergabung dengan keluarga
besarnya.

Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dalam
lemari tua yg berada di dekat pintu kamar, lemari tua yang telah ada
sebelum suamiku lahir tiba-tiba Tante Lia, tante yang sangat baik
padaku memanggil ku untuk bersegera berkumpul diruang tengah, aku pun
menuju ke ruang keluarga yang berada ditengah rumah besar itu, yang
tampak seperti rumah zaman peninggalan belanda.

Kemudian aku duduk disamping suamiku, dan suamiku menunduk penuh
dengan kebisuan, aku tak berani bertanya padanya.

Tiba-tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling
berhak atas semuanya, membuka pembicaraan.

“Baiklah, karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara
dengan kau Fisha”. Neneknya berbicara sangat tegas, dengan sorot
mata yang tajam.

”Ada apa ya Nek?” sahutku dengan penuh tanya..

Nenek pun menjawab, “Kau telah bergabung dengan keluarga kami
hampir 8 tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda-tanda kehamilan
yang sempurna sebab selama ini kau selalu keguguran!!“.

Aku menangis.. untuk inikah aku diundang kemari? Untuk dihina
ataukah dipisahkan dengan suamiku?

“Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu..
sebelum kau menikah dengannya. Tapi Fikri anak yang keras kepala, tak
mau di atur,dan akhirnya menikahlah ia dengan kau.” Neneknya
berbicara sangat lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.

Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong
matanya.

“Dan aku dengar dari ibu mertuamu kau pun sudah berkenalan
dengannya”, neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.

Sedangkan suamiku hanya terdiam saja, tapi aku lihat air matanya.
Ingin aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak
punya keberanian itu.

Neneknya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari
ucapannya dengan mimik wajah yang sangat menantang kemudian berkata, “kau
maunya gimana? kau dimadu atau diceraikan?“

MasyaAllah.. kuatkan hati ini.. aku ingin jatuh pingsan. Hati ini
seakan remuk mendengarnya, hancur hatiku. Mengapa keluarganya bersikap
seperti ini terhadapku..

Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal
di pulau
kayu, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun belakangan ini.

“Fish, jawab!.” Dengan tegas Ibunya langsung memintaku
untuk menjawab.

Aku langsung memegang tangan suamiku. Dengan tangan yang dingin dan
gemetar aku menjawab dengan tegas.

”Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku
dapat berdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk kebaikan dan masa
depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru
dirumah kami.”

Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cintaku dibagi. Dan
pada saat itu juga suamiku memandangku dengan tetesan air mata, tapi
air mataku tak sedikit pun menetes di hadapan mereka.

Aku lalu bertanya kepada suamiku, “Ayah siapakah yang akan
menjadi sahabatku dirumah kita nanti, yah?”

Suamiku menjawab, ”Dia Desi!”

Aku pun langsung menarik napas dan langsung berbicara, ”Kapan
pernikahannya berlangsung? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan
ini Nek?.”

Ayah mertuaku menjawab, “Pernikahannya 2 minggu lagi.”

”Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk
menyuruhnya mengurus KK kami ke kelurahan besok”, setelah
berbicara seperti itu aku permisi untuk pamit ke kamar.

Tak tahan lagi.. air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat,
aku buka pintu kamar dan aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin
berteriak, tapi aku sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini,
cintaku telah dibagi. Sakit. Diiringi akutnya penyakitku..

Apakah karena ini suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun
belakangan ini?

Aku berjalan menuju ke meja rias, kubuka jilbabku, aku bercermin
sambil bertanya-tanya, “sudah tidak cantikkah aku ini?“

Ku ambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang setiap hari rontok.
Kulihat wajahku, ternyata aku memang sudah tidak cantik lagi, rambutku
sudah hampir habis.. kepalaku sudah botak dibagian tengahnya.

Tiba-tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suamiku yang datang, ia
berdiri dibelakangku. Tak kuhapus air mata ini, aku bersegera
memandangnya dari cermin meja rias itu.

Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan, “terima kasih
ayah, kamu memberi sahabat kepada ku. Jadi aku tak perlu sedih lagi
saat ditinggal pergi kamu nanti! Iya kan?.”

Suamiku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia
tersenyum dan bertanya kenapa rambutku rontok, dia hanya mengatakan
jangan salah memakai shampo.

Dalam hatiku bertanya, “mengapa ia sangat cuek?” dan ia
sudah tak memanjakanku lagi. Lalu dia berkata, “sudah malam, kita
istirahat yuk!“

“Aku sholat isya dulu baru aku tidur”, jawabku tenang.

Dalam sholat dan dalam tidur aku menangis. Ku hitung mundur waktu,
kapan aku akan berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi
pernikahan suamiku.

Aku tak tahu kalau Desi orang Sabang juga. Sudahlah, ini mungkin
takdirku. Aku ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat
memanjakan aku atas rasa sayang dan cintanya itu.

***

Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di
laptopku.

Di laptop aku menulis saat-saat terakhirku melihat suamiku, aku
marah pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat
suamiku yang sedang tidur pulas, apa salahku? sampai ia berlaku sekejam
itu kepadaku. Aku
save di mydocument yang bertitle “Aku Mencintaimu Suamiku.”

Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup
untuk keluar. Aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari, karena
mungkin saja aku takkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri
sangat lama.. lalu suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya
masuk dan berbicara padaku.

“Apakah kamu sudah siap?”

Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata :

“Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia
masuk kedalam rumah ini, cucilah kakinya sebagaimana kamu mencuci
kakiku dulu, lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan
do’a di ubun-ubunnya sebagaimana yang kamu lakukan padaku dulu. Lalu
setelah itu..”, perkataanku terhenti karena tak sanggup aku
meneruskan pembicaraan itu, aku ingin menagis meledak.

Tiba-tiba suamiku menjawab “Lalu apa Bunda?”

Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku menunduk seketika aku
langsung menatapnya dengan mata yang berbinar-binar…

“Bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan?”, pintaku
tuk menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar.

Dia mengangguk dan berkata, ”Baik bunda akan ayah ulangi, lalu
apa bunda?”, sambil ia mengelus wajah dan menghapus airmataku, dia
agak sedikit membungkuk karena dia sangat tinggi, aku hanya sedadanya
saja.

Dia tersenyum sambil berkata, ”Kita liat saja nanti ya!”.
Dia memelukku dan berkata, “bunda adalah wanita yang paling kuat
yang ayah temui selain mama”.

Kemudian ia mencium keningku, aku langsung memeluknya erat dan
berkata, “Ayah, apakah ini akan segera berakhir? Ayah kemana saja?
Mengapa Ayah berubah? Aku kangen sama Ayah? Aku kangen belaian kasih
sayang Ayah? Aku kangen dengan manjanya Ayah? Aku kesepian Ayah? Dan
satu hal lagi yang harus Ayah tau, bahwa aku tidak pernah berzinah!
Dulu.. waktu awal kita pacaran, aku memang belum bisa melupakannya,
setelah 4 bulan bersama Ayah baru bisa aku terima, jika yang
dihadapanku itu adalah lelaki yang aku cari. Bukan berarti aku pernah
berzina Ayah.” Aku langsung bersujud di kakinya dan muncium kaki
imamku sambil berkata, ”Aku minta maaf Ayah, telah membuatmu susah”.

Saat itu juga, diangkatnya badanku.. ia hanya menangis.

Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti dirinya kembali.
Tiba-tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang tidak beres
denganku dan ia bertanya, ”bunda baik-baik saja kan?” tanyanya
dengan penuh khawatir.

Aku pun menjawab, “bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti
dulu itu sudah mebuatku baik, Yah. Aku hanya tak bisa bicara sekarang“.
Karena dia akan menikah. Aku tak mau membuat dia khawatir. Dia harus
khusyu menjalani acara prosesi akad nikah tersebut.

***

Setelah tiba dimasjid, ijab-qabul pun dimulai. Aku duduk diseberang
suamiku.

Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu, membuat
hati ini cemburu, ingin berteriak mengatakan, “Ayah jangan!!”,
tapi aku ingat akan kondisiku.

Jantung ini berdebar kencang saat mendengar ijab-qabul tersebut.
Begitu ijab-qabul selesai, aku menarik napas panjang. Tante Lia, tante
yang baik itu, memelukku. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan
hati ini. Ya… aku kuat.

Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding dipelaminan.
Orang-orang yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka
melihatku dengan tatapan sangat aneh, mungkin melihat wajahku yang
selalu tersenyum, tapi dibalik itu.. hatiku menangis.

Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja.
Tak mencuci kakinya. Aku sangat heran dengan perilakunya. Apa iya, dia
tidak suka dengan pernikahan ini?

Sementara itu Desi disambut hangat di dalam keluarga suamiku, tak
seperti aku dahulu, yang di musuhi.

Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa? Suamiku akan tidur
dengan perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tahu apa yang sedang
mereka lakukan didalam sana.

Sepertiga malam pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk
berwudhu, lalu aku melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur disofa
ruang tengah. Kudekati lalu kulihat. Masya Allah.. suamiku tak tidur
dengan wanita itu, ia ternyata tidur disofa, aku duduk disofa itu
sambil menghelus wajahnya yang lelah, tiba-tiba ia memegang tangan
kiriku, tentu saja aku kaget.

“Kamu datang ke sini, aku pun tahu”, ia berkata seperti
itu. Aku tersenyum dan megajaknya sholat lail. Setelah sholat lail ia
berkata, “maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita
karena ego nya aku. Besok kita pulang ke Jakarta, biar Desi pulang
dengan mama, papa dan juga adik-adikku”

Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung mengajakku
untuk istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum
saja, sudah lama ini tidak terjadi. Ya Allah.. apakah Engkau akan
menyuruh malaikat maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini, karena aku
telah merasakan kehadirannya saat ini. Tapi.. masih bisakah engkau
ijinkan aku untuk merasakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang
selama 2 tahun ini..

Suamiku berbisik, “Bunda kok kurus?”

Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan.

Aku pun berkata, “Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi?”

”Aku kangen sama kamu Bunda, aku tak mau menyakitimu lagi. Kamu
sudah sering terluka oleh sikapku yang egois.” Dengan lembut
suamiku menjawab seperti itu.

Lalu suamiku berkata, ”Bun, ayah minta maaf telah menelantarkan
bunda.. Selama ayah di Sabang, ayah dengar kalau bunda tidak tulus
mencintai ayah, bunda seperti mengejar sesuatu, seperti mengejar harta
ayah dan satu lagi.. ayah pernah melihat sms bunda dengan mantan pacar
bunda dimana isinya kalau bunda gak mau berbuat “seperti itu” dan
tulisan seperti itu diberi tanda kutip (“seperti itu”). Ayah ingin
ngomong tapi takut bunda tersinggung dan ayah berpikir kalau bunda
pernah tidur dengannya sebelum bunda bertemu ayah, terus ayah dimarahi
oleh keluarga ayah karena ayah terlalu memanjakan bunda”

Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada
kepercayaan di dirinya, hanya karena omongan keluarganya yang tidak
pernah melihat betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku
ini.

Aku hanya menjawab, “Aku sudah ceritakan itu kan Yah. Aku tidak
pernah berzinah dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya
mengejar hartamu, mengapa aku memilih kamu? Padahal banyak lelaki yang
lebih mapan darimu waktu itu Yah. Jika aku hanya mengejar hartamu, aku
tak mungkin setiap hari menangis karena menderita mencintaimu.“

Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena sahabatku
sendirian dikamar pengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan masalahku
dengan suamiku dan berusaha memaafkannya beserta sikap keluarganya
juga.

Karena aku tak mau mati dalam hati yang penuh dengan rasa benci.

***

Keesokan harinya…

Ketika aku ingin terbangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing,
rahimku sakit sekali.. aku mengalami pendarahan dan suamiku kaget bukan
main, ia langsung menggendongku.

Aku pun dilarikan ke rumah sakit..

Dari kejauhan aku mendengar suara zikir suamiku..

Aku merasakan tanganku basah..

Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa
kekhawatiran.

Ia menggenggam tanganku dengan erat.. Dan mengatakan, ”Bunda,
Ayah minta maaf…”

Berkali-kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hatiku, apa ia tahu apa
yang terjadi padaku?

Aku berkata dengan suara yang lirih, ”Yah, bunda ingin pulang..
bunda ingin bertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana ya,
Yah..”

“Ayah jangan berubah lagi ya! Janji ya, Yah… !!! Bunda sayang
banget sama Ayah.”

Tiba-tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakitnya semakin keatas,
kakiku sudah tak bisa bergerak lagi.. aku tak kuat lagi memegang tangan
suamiku. Kulihat wajahnya yang tampan, berlinang air mata.

Sebelum mata ini tertutup, kulafazkan kalimat syahadat dan ditutup
dengan kalimat tahlil.

Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku..

Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka..

Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami
pacaran sampai kami menikah.

Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafasku.

Untuk Ibu mertuaku : “Maafkan aku telah hadir didalam kehidupan
anakmu sampai aku hidup didalam hati anakmu, ketahuilah Ma.. dari dulu
aku selalu berdo’a agar Mama merestui hubungan kami. Mengapa engkau
fitnah diriku didepan suamiku, apa engkau punya buktinya Ma? Mengapa
engkau sangat cemburu padaku Ma? Fikri tetap milikmu Ma, aku tak pernah
menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari dulu aku selalu mengerti apa
yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci diriku. Dengan
Desi kau sangat baik tetapi denganku menantumu kau bersikap
sebaliknya.”

***

Setelah ku buka laptop, kubaca curhatan istriku.

=====================================================

Ayah, mengapa keluargamu sangat membenciku?

Aku dihina oleh mereka ayah.

Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu?

Pernah suatu ketika aku bertemu Dian di jalan, aku menegurnya karena
dia adik iparku tapi aku disambut dengan wajah ketidaksukaannya.
Sangat terlihat Ayah..

Tapi ketika engkau bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia
memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa
seperti itu ayah?

Aku tak bisa berbicara tentang ini padamu, karena aku tahu kamu
pasti membela adikmu, tak ada gunanya Yah..

Aku diusir dari rumah sakit.

Aku tak boleh merawat suamiku.

Aku cemburu pada Desi yang sangat akrab dengan mertuaku.

Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku.

Aku sangat marah..

Jika aku membicarakan hal ini pada suamiku, ia akan pasti membela
Desi dan
ibunya..

Aku tak mau sakit hati lagi.

Ya Allah kuatkan aku, maafkan aku..

Engkau Maha Adil..

Berilah keadilan ini padaku, Ya Allah..

Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku..

Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja-manja lagi
padamu..

Aku kuat ayah dalam kesakitan ini..

Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus
menyerangku..

Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah..

Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu.

Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui.

Tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku.

Aku harus sadar diri.

Ayah, sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu.

Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku?

Ayah.. aku masih tak rela.

Tapi aku harus ikhlas menerimanya.

Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya.

Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum
untukku.

Aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang terakhir.

Sebelum ajal ini menjemputku.

Ayah.. aku kangen ayah..

=====================================================

Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu, Bunda..

Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi di Pulau Kayu
ini.

Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwana pink yang
mencerminkan keceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.

Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur.

Bunda akan selalu hidup dihati ayah.

Bunda.. Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah..

Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah membersihkan telingaku,
rambutku tak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya.

Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun, kamu sakit pun
aku tak perduli, hidup dalam kesendirianmu..

Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin ayah masih bisa
tidur dengan belaian tangan Bunda yang halus.

Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan bunda..

Bunda, kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui.

Aku menyesal telah asik dalam ke-egoanku..

Bunda.. maafkan aku.. Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu
terlihat di tidurmu yang panjang.

Maafkan aku, tak bisa bersikap adil dan membahagiakanmu, aku selalu
meng-iyakan apa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka.
Maafkan aku ketika kau di fitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu
saja.

Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana?

Apakah Bunda tetap menanti ayah disana? Tetap setia dialam sana?

Tunggulah Ayah disana Bunda..

Bisakan? Seperti Bunda menunggu ayah di sini.. Aku mohon..

Ayah Sayang Bunda..



sumber:
http://groups.yahoo.com/group/tentang-pernikahan/message/6395
READ MORE - Kisah Cinta yang Mengharukan …

Tulang Rusuk yang Hilang… sebuah Cerita Cinta yang Mengharukan…..


Cerita ini saya posting untuk seorang teman yang sedang duduk termenung disana menyesali diri. Kehidupan cinta yang penuh dengan pertengkaran membuat teman saya ini merasa salah memilih calon pendamping hidupnya yaiu sang pacar yang sudah 4 tahun menemani hari-harinya.
cerita ini untuk kita semua yang sering kali membuat sedihati orang yang kita sayang
…..semoga kisah ini membuat perubahan akan perasaan pada sang kekasih….terima kasih untuk penulis cerita ini

Sebuah senja yang sempurna, sepotong donat, dan lagu cinta yang lembut. Adakah yang lebih indah dari itu, bagi sepasang manusia yang memadu kasih? Raka dan Dara duduk di punggung senja itu, berpotong percakapan lewat, beratus tawa timpas, lalu Dara pun memulai meminta kepastian. ya, tentang cinta.
Dara : Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini?
Raka : Kamu dong?
Dara : Menurut kamu, aku ini siapa?
Raka : (Berpikir sejenak, lalu menatap Dara dengan pasti) Kamu tulang rusukku! Ada tertulis, Tuhan melihat bahwa Adam kesepian. Saat Adam tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan Hawa. Semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya, tidak lagi merasakan sakit di hati.”
Setelah menikah, Dara dan Raka mengalami masa yang indah dan manis untuk sesaat. Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan kepenatan hidup yang kain mendera. Hidup mereka menjadi membosankan. Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain.
Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas.
Pada suatu hari, pada akhir sebuah pertengkaran, Dara lari keluar rumah. Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak, “Kamu nggak cinta lagi sama aku!”
Raka sangat membenci ketidakdewasaan Dara dan secara spontan balik berteriak, “Aku menyesal kita menikah! Kamu ternyata bukan tulang rusukku!”
Tiba-tiba Dara menjadi terdiam , berdiri terpaku untuk beberapa saat. Matanya basah. Ia menatap Raka, seakan tak percaya pada apa yang telah dia dengar.
Raka menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan. Tetapi seperti air yang telah tertumpah, ucapan itu tidak mungkin untuk diambil kembali. Dengan berlinang air mata, Dara kembali ke rumah dan mengambil barang-barangnya, bertekad untuk berpisah. “Kalau aku bukan tulang rusukmu, biarkan aku pergi. Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan sejati masing-masing. ”
Lima tahun berlalu…..
Raka tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari tahu akan kehidupan Dara. Dara pernah ke luar negeri, menikah dengan orang asing, bercerai, dan kini kembali ke kota semula. Dan Raka yang tahu semua informasi tentang Dara, merasa kecewa, karena dia tak pernah diberi kesempatan untuk kembali, Dara tak menunggunya.
Dan di tengah malam yang sunyi, saat Raka meminum kopinya, ia merasakan ada yang sakit di dadanya. Tapi dia tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan Dara.
Suatu hari, mereka akhirnya kembali bertemu. Di airport, di tempat ketika banyak terjadi pertemuan dan perpisahan, mereka dipisahkan hanya oleh sebuah dinding pembatas, mata mereka tak saling mau lepas.
Raka : Apa kabar?
Dara : Baik… ngg.., apakah kamu sudah menemukan rusukmu yang hilang?
Raka : Belum.
Dara : Aku terbang ke New York dengan penerbangan berikut.
Raka : Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telpon aku kalau kamu sempat. Kamu tahu nomor telepon kita, belum ada yang berubah. Tidak akan adayang berubah.
Dara tersenyum manis, lalu berlalu.
“Good bye….”
Seminggu kemudian, Raka mendengar bahwa Dara mengalami kecelakaan, mati. Malam itu, sekali lagi, Raka mereguk kopinya dan kembali merasakan sakit di dadanya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah karena Dara, tulang rusuknya sendiri, yang telah dengan bodohnya dia patahkan.
“Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal”

Sumber: http://imadeharyoga.com/
READ MORE - Tulang Rusuk yang Hilang… sebuah Cerita Cinta yang Mengharukan…..

Senin, 18 April 2011


kini baru terbangun dalam mimpi terdalamu,,,
menapa bagitu aku mencintaimu?????????????
malamku cari tiap sudut kota, tuk berjumpa hanya bayangmu,,,
malamku menari atas dua roda, tuk membaca jejakmu
malamku ku nikmati angin jalanan tuk mengikuti jejakmu

mengapa berat kaihku untukmu kulepas?
meski sampai saat ini tak bisa ku disisimu,,,
rindukunikmati perihnya senyum manismu,,,
bidadari malamku dalam mimpi larut buai asmara angin malam
tahuukah kau???
mengapa begini aku mencintaimu
READ MORE -

Rabu, 06 April 2011


memang menghujamku dan tetap menumpuk punggungku dalam lelah, hanya batas ku mampu menutupnya, jika kau ingini ku rela biar lelahku lebih tumpu selama beberapa denyut jam dinding persinggahan ini, tak pernah q hentikan arusmu kau beri, karna jalanmu tetap kucinta, meski bukan saat berdua besama menyanyi riang sampai tutup senja tiba dan mulai berbisik padaku tentang semuanya.
mungkin terlalu tinggi kiranya do'a ini sehingga tak kujamah seluk - beluknya
q terlalu takut kau meneteskan walau titik air matamu atas pedih yang kuberi
namun q mungkin saja tak pernah sanggup kau berpangku dilain hati, dilain hari dan dilain sisi
Yang Memiliki Sepenuh Hati ini
bantu aku tuk tetap kokoh melindungi, dari hujam malam, dan dari gangguan siang
READ MORE -

Sabtu, 02 April 2011


masih mereda sebak dada, menutupnya mentari permainkan dalam ingkar mula
baktiku tak pernah gugur
asa ini mengalirkan diri setenang ladang sungai diperanta malam
tak mampu dan tak ingin menatap jauh sejauh aku melempar nyawa dunia maya
karna kaulah yang dihati
bersemayamkan cinta dan mensemikan tamanku tiap fajar hari
belaimu kasihku,,,
candamu, kasihku,,,
cintamu, kasihku,,,
sungguh terlalu kubutuhkan itu
READ MORE -

Kamis, 17 Maret 2011

beranjak tawamu mengiringi
menemukan yang tertatih terlampau masa

-----masih bersemayam dalam hulu tandus teralir
dialam senja telah terbuai kembali membujuk

senjaku hilang berawan - - - - -
READ MORE -