
“Saya sakit apa saja, dok?” Tanya pasien yang kritis itu dengan gaya menyelidik.
Bapak ini agak sesak, susah buang air kecil, dan matanya kuning, sudah bolak balik pindah dokter dan pindah rawat ke 4 rumah sakit selama 2-3 hari lalu minta pulang sebelum ada perbaikan.
“Sakit utama bapak TBC paru-paru yang sudah lanjut. Tetapi akibat obat-obat TBC bapak sedikit ada gangguan di hati dan ginjal.” Jawabku.
“Nah, kan. Berarti dokter-dokter sebelumnya malpraktek, dok. Saya bisa melapor ke polisi kan dok?” Matanya melotot dan tambah sesak terbatuk-batuk.
“Oh, bukan. Itu efek samping obat, tidak direncanakan dokter sebelumnya untuk membuat bapak kena efek samping. Makanya waktu meresepkan obat, dokter biasanya menyuruh si pasien kontrol untuk melihat perkembangan penyakit dan efek pengobatannya.” kataku.
“Jadi, dokter itu tidak salah? Yang salah saya? Kok jadi pasien yang salah?” Si bapak merengut.
“Menurut riwayat penyakitnya, bapak selalu pindah-pindah dokter dan rawat inap di rumah sakit 2-3 hari langsung minta pulang. Nah, mungkin saja pengobatannya jadi tidak tuntas dan tumpang tindih..” Jawabku.
“Baiklah! Berarti dokter ingin saya dirawat di sini sampai sembuh, kan? Yakin saya bisa sembuh? Itu obatnya kok banyak bener dok? Pesan sponsor ya? Bukannya tambah parah nanti sakit saya?” Katanya ketus dengan sesaknya.
“Perbaikan sih mungkin. Tapi bikin sembuh seperti orang yang paru-parunya bagus tidak mungkin. Itu pun paling cepat pengalaman saya 1 minggu baru nafas bapak legah. Nah, ini penyakit bapak banyak benar, ada TBC, sakit ginjal, hepatitis, gastritis, rematik. Satu penyakit obatnya ada yang 2 dan 3. Mau diobatin yang mana dulu? Paru-parunya? Ginjalnya? Atau hatinya?”
“Tidak ada satu obat untuk semua penyakit dok?”
“Belum ada pak!”
“Ya, kalau begitu terserah dokter deh. Saya menurut saja!” Si pasien menurut pasrah.
Sepuluh hari dia dirawat, ada perbaikan. Sesak berkurang, ginjalnya membaik dan kuningnya berkurang. Bukan karena obat yang diberikan lebih bagus, mirip-mirip dengan obat dokter-dokter sebelumnya. Tetapi minimal si pasien mau pasrah 10 hari dirawat dan menurut semua nasehat dan terapi dokter dan perkembangan penyakitnya dapat diikuti dan diantisipasi.
Penyakit sebaiknya dicegah, tetapi kalau sudah terkena sebaiknya saudara berobat ke dokter yang anda percaya dan ijinkan dia memberi pengobatan dan mengikutinya sampai dia menyerah dan merujuk ke dokter yang lebih ahli.
Bagaimana kalau si dokter tidak menyerah-menyerah? Beri batasan waktu. sakit yang akut, satu minggu harus ada kemajuan. Bila 2 kali kontrol dengan rentang 3 hari penyakitnya tidak baik, anda minta rujuk deh, dan ke dokter rujukan ini anda beritahukan obat-obat sebelumnya.
Untuk penyakit kronis dan menahun (sudah anda derita lebih 2 minggu), berikan si dokter waktu 1 bulan. Kalau dalam sebulan dia belum bisa mengurangi keluhan anda dan apalagi belum bisa mendiagnosis penyakitnya dengan tepat, mintalah dirujuk ke dokter yang lebih ahli. Dan ingat, obat-obat sebelumnya harap dibawa salinan resepnya biar si dokter rujukan mengerti riwayat pengobatan sebelumnya.
Yang kurang bijaksana kalau anda gemar pindah-pindah dokter kalau dalam 2-3 hari obat yang diberikan dokter sebelumnya terasa kurang manjur. Ini berbahaya, dapat menimbulkan banyak efek samping dan kekebalan kuman terhadap antibiotik.
Apalagi kalau anda memiliki 4, 5 atau lebih penyakit, itu lebih sulit lagi, karena tiap penyakit memiliki obat yang memiliki efek samping tertentu, obat untuk penyakit satu bisa ada efek samping ke penyakit lainnya, nah untuk kasus ini anda harus lebih bersabar lagi. Si dokter pasti akan mengobati penyakit anda bertahap sesuai tingkat keparahannya, tidak bisa sekaligus semua.
Itulah gambaran pasien dengan poly disease yang diobati polifarmasi yang kebetulan tidak poligami. Mudah-mudahan ada manfaat bagi semua yang membacanya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar